Peluang Baru Petani Kopi, Fine Robusta Tembus Rp.45 Ribu Per Kg

Rabu, 06 Juni 2018 | 22:58:48
| Dibaca: 497 kali
Penulis: Joni Editor: Abdul Jabar

/ ist

Joni,

MERANGIN-Petani kopi di Kabupaten Merangin, khususnya di Kecamatan Jangkat, Jangkat Timur dan Lembah Masurai punya peluang untuk meningkatkan penghasilan lewat komoditi kopi. Salah satunya dengan mengembangan kopi jenis Fine Robusta.

Pada saat ini jenis kopi yang dikembangkan petani di tiga Kecamatan di kaki gunung Masurai ini adalah jenis kopi robusta. Namun sayangnya petani belum memaksimalkan potensi tersebut sehingga di pasaran kopi ditingkat petani dijual dengan harga rendah, yakni kisaran Rp.20 Ribu per Kg.

Namun saat ini, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Tiga Beradik (LTB) yang bermarkas di Kabupaten Merangin tengah mengembangkan kopi fine robusta yang dapat di jual dengan harga terendah Rp.45 per Kg.

LSM LTB yang bekerja sama dengan Rikalto, LSM asal Belgia yang berkantor di Bali, sudah melakukan bimbingan petani di tiga Desa di Jangkat Timur, yakni Desa Gedang, Desa Baru, dan Desa Talang Tembago, untuk mengembangkan produk kopi fine robusta.

“Kita sudah berjalan dua tahun melakukan pendampingan kepada petani di tiga desa ini untuk mengembangkan kopi fine robusta,” kata Hardi Yuda coordinator program LTB.

Yuda menjelaskan, fine robusta adalah jenis kopi robusta yang pada umumnya di kembangkan oleh petani. Namun cara budi dayanya berbeda dengan cara yang dikembangkan petani saat ini.

Seperti pemeliharaan tanaman kopi dan cara pemupukan kopi. Tidak hanya sebatas itu, kata Yuda, pengolahan pasca panen juga berbeda dengan cara sebelumnya.

“Untuk proses panen, kopi yang dipilih adalah kopi yang berkualitas bagus, yang sudah betul betul masak atau berwana merah,” kata Yuda.

Setelah itu, buah kopi disortir terlebih dahulu. Salah satunya dengan cara di rendam, kemudian buah kopi yang mengapung di pisahkan.

Kemudian, buah kopi pilihan di giling sehingga yang tersisa adalah gabah bersih. Lalu di diamkan selama 18 jam, kemudian baru di jemur.

“Proses untuk menghasilkan kopi Fine Robusta memang agak rumit, tapi itu bisa dilakukan karena potensi kopi di Merangin ini sangat bagus kualitasnya,” jelasnya.

Terkait pemasaran, Yuda megatakan hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan menggerakkan Bumdes di setiap desa. Selain itu pemasarannya juga dapat dilakukan lewat satu pintu pemasaran bersama.

“Saat ini ada sekitar 75 orang petani yang dalam tahap pembinaan dari kami. Khusus untuk ibu ibu kami juga membimbing cara fine robusta dalam bentuk bubuk, yang dapat di jual seharga Rp.100 Ribu per Kg,” tandansya.(*)

Penulis: Joni
Editor: Abdul Jabar