Explore Category

Advertorial


Peringati Hari Guru dan PGRI ke-72, Pemkab Merangin Lakukan Bhakti Sosial ke Panti Asuhan

Senin, 27 November 2017 | 10:15:59
| Dibaca: 198 kali
Penulis: Wiwin Saputra Editor: Nazarman

Bupati Merangin H Al Haris bersama Wabup H A Khafid Moein memberikan penghargaan kepada para guru berprestasi
Bupati Merangin H Al Haris bersama Wabup H A Khafid Moein memberikan penghargaan kepada para guru berprestasi /

Wiwin

MERANGIN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kemarin (27/11), menggelar upacara peringatan Hari Guru Nasional 2017 dan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-72.

Upacara yang fokuskan di halaman depan Kantor Bupati Merangin tersebut, diikuti Wabup H A Khafid Moein, Sekda H Sibawaihi dan Forkopimda Merangin. Upacara diikuti ratusan utusan guru dan pelajar dari sejumlah sekolah di Kabupaten Merangin.

Tampil sebagai inspektur upacara Bupati Merangin H Al Haris. Bupati memberi penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para guru, atas dedikasi, komitmen dan segala ikhtiar yang telah dilakukan para guru dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bupati mengajak para guru menerapkan asas disiplin dan menjadi seorang guru yang mempunyai perilaku baik, sehingga dapat dicontoh oleh para peserta didiknya. Guru adalah seorang panutan bagi siswanya, baik dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Dalam bahasa Jawa lanjut bupati, ada istilah ‘Guru digugu dan ditiru’ itu mempunyai arti seorang guru itu dipercaya oleh muridnya dan diikuti setiap tindak tanduknya. Bearti apapun yang dikatakan oleh guru dalam mendidik, pasti akan diikuti juga oleh muridnya.

Pada kesempatan itu, bupati memberikan penghargaan kepada sejumlah guru berprestasi dari sejumlah sekolah-sekolah berprestasi di Kabupaten Merangin. Bupati juga menyerahkan hadiah lomba Usaha Kesehatan Sekolah.

Menariknya usai upacara, bupati memberikan kuis dengan melempar sejumlah pertanyaan kepada para pelajar, terkait guru dan kepada guru terkait pelajar. Pertanyaan bupati itu diantaranya, apa yang paling dikenang seorang pelajar kepada gurunya?

Salah seorang pelajar ada yang menjawab, yang paling dikenang terhadap guru adalah cubitannya. Jawaban itu jelas membuat seluruh peserta upacara tertawa terbahak-bahan, termasuk para guru.

Selanjutnya para utusan guru bertolak ke Panti Asurah, guna memberikan bhakti sosial berupa bahan kebutuhan pokok. Bantuan tersebut, merupakan rasa keperdulian para guru di Merangin terhadap sesama. (*)

Penulis: Wiwin Saputra
Editor: Nazarman