Explore Category

Sarolangun


Hilallatil Badri Membuka Acara WOTKSHOP Kontinjensi Dan Uji Lapangan Karhutla

Senin, 30 Oktober 2017 | 20:36:45
| Dibaca: 1776 kali
Penulis: Achmad fuady Editor: Nazarman

/

Fuady

SAROLANGUN-Wakil Bupati Sarolangun, Hilallatil Badri, membuka acara palatihan Rencana Kontijensi Penanggulangan Bencana dan Uji Lapangan Karhutla di Hotel Abadi Sarolangun pada Senin (30/12017).

Peserta pelatihan berjumlah 54 orang terdiri dari perwakilan beberapa OPD, TNI, Polri, BPBD, Pol PP, KPHP, Kecamatan, PMI, RSUD, PDAM, PLN, PT KDA, TNBD, KTPA, MPA, Manggala Agni dan Desa Pulau Lintang Perwakilan Fasilitator Daerah.

Acara yang rencananya digelar selama lima hari terhitung dari Senin 30 Oktober sampai Jumat 3 November 2017 diisi oleh Fasilitator dengan materi pengantar rencana kontinjensi, penilaian risiko dan penentuan kejadian, pengembangan skenario, penetapan tujuan dan strategi tanggap darurat, perencanaan sektor dan tindak lanjut 

Kegiatan ini juga merupakan tahap uji coba terhadap modul rencana kontinjensi yang telah disusun oleh Tim Working Group rencana kontinjensi Pusdiklat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pusdiklat BNPB, Tanti Surya Tamrin, menyampaikan bahwa pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusdiklat BNPB merupakan pelatihan yang bertahap, bertingkat dan berlanjut.

"Perencanaan yang baik merupakan kunci keberhasilan If you fail to plan you plan to fail sehingga mau tidak mau perencanaan ini harus dibuat" ujar Tanti Surya Tamrin.

Rencana kontinjensi atau rencana kedaruratan digunakan sebagai dasar latihan kesiap siagaan, fakta di daerah adalah sebagian kecil daerah telah memiliki rencana kontijensi (renkon) namun hanya menjadi dokumen mati serta latihan dilaksanakan tanpa memperhatikan renkon yang ada, padahal idealnya renkon harus menjadi dokumen hidup, ditinjau kembali secara periodik, wajib dibuat oleh setiap organisasi/lembaga dengan skenario risiko/ ancaman yang sama serta dikembangkan sebagai dasar latihan dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan koordinasi melalui tahapan sebagimana tergambar dalam siklus kesiapsiagaan.

Sebagaimana disampaikan oleh narasumber dari MPBI, Ujang, bahwa perencanaan dalam penanggulangan bencana mutlak harus dilakukan, dan harus dilaksanakan saat terjadi bencana. 

"Apabila saat penanggulangan bencana tidak digunakan, misalnya karena kondisi collapse maka jika sudah pernah dilakukan perencanaan diharapkan kegiatan penanggulangan bencana akan lebih terarah dan efektif" ujar Ujang (*)

Penulis: Achmad fuady
Editor: Nazarman