Explore Category

Berita Daerah


Polisi Bekuk Penganiaya Wartawan di Bungo

Jumat, 19 Agustus 2016 | 19:49:25
| Dibaca: 3401 kali
Penulis: Sarkopos.com Editor: Nazarman

tersangka Awi saat diperiksa di Polres Bungo
tersangka Awi saat diperiksa di Polres Bungo /

Nazarman

SARKOPOS.COM-Awi warga Sungai Aur, Dusun Senamat, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, akhirnya diringkus polisi. Penangkapan ini dilakukan, setelah HM diduga melakukan penganiayaan terhadap wartawan di Bungo.

Dilansir dari Tribunjambi.com Kasat Reskrim Polres Bungo, AKP Ardi Kurniawan, menggatakan pelaku pemukulan Awi putra  dari Rio (Kepala Desa-Red) Mauro Kuamang ditangkap Jumat (11/3) di kediamannya.

“Saat ini, sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Awi,” kata Kasat Reskrim Polres Bungo. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku, berkas perkara akan segera dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Muara Bungo untuk ditindak lajuti.

"Kita akan dalami kasus ini, setelah berkas selesai segera kami akan limpahkan ke Kejaksaan, agar kasus ini segera disidangkan," kata Ardi. Untuk diketahui, aksi kekerasan dialami seorang pewarta dari surat kabar Suara Bute Sarko, M. Puadi.
Sabtu (20/2), ‎korban didatangi oleh pelaku yang diketahui bernama MH, di kediaman korban, Sungai Aur, Dusun Senamat, Kecamatan Pelepat.

Saat bertatap muka, pelaku ‎langsung melakukan penganiayaan dengan memukul Puadi, sehingga korban mengalami beberapa luka di bagian kepala.

Untungnya,istri Puadi yang kebetulan berada di rumah, berupaya untuk memisahkan penganiayaan tersebut. ‎"Dia meninju, terus mencekik. Waktu itu istri saya dan adik ipar yang menghentikan. Saya sendiri tidak sempat membalas tindakan dia," ungkap Puad, kepada sejumlah awak media di Bungo.

Awal kejadian, bermula ketika Puadi mencoba untuk membongkar ketimpangan dalam penyaluran dana bantuan Samisake.
Ia memberitakan hal tersebut, karena sudah sangat banyak keluhan dari masyarakat, yang selama ini merasa dirugikan.
Amper subsidi bantuan Samisake ‎di Dusun Senamat, menurut info yang dihumpunnya di lapangan hanya diterima oleh pihak-pihak yang memiliki kaitan keluarga.

“Dia (pelaku) yang menerima bantuan itu, termasuk mampu tapi punya ikatan dengan perangkat dusun. Jadi mungkin tidak terima atas pemberitaan,” ungkap korban.

‎Menurutnya, intimidasi kepada dia bukan hanya terjadi ketika penganiayaan berlangsung, paginya orangtua pelaku sempat juga datang mencaci maki korban.
Bahkan juga mengusirnya untuk tidak lagi tinggal di dusun tersebut. “Dia ngancam saya dan mengusir untuk tidak lagi tinggal di dusun itu,” tukas Puadi. (*)

 


Editor: Nazarman